Website murah bukan masalah.
Landing page dari template bisa cukup untuk bisnis baru yang ingin mencantumkan layanan dan nomor kontak. Memaksakan proyek besar pada tahap itu justru tidak masuk akal.
Yang perlu dicek adalah kecocokan antara harga, scope, dan harapan.
Apa yang biasanya tidak masuk
Harga rendah sering berarti ruang lingkup lebih sempit. Misalnya:
- materi tulisan disediakan klien;
- desain memakai template;
- revisi terbatas;
- tidak ada CMS;
- pengaturan SEO sangat dasar; atau
- support setelah launch singkat.
Semua ini wajar selama disampaikan sejak awal.
Masalah muncul ketika penawaran kecil dijual seolah mencakup riset, penulisan, desain khusus, pengembangan, dan strategi pemasaran sekaligus.
Kapan pilihan sederhana cukup
Pilihan sederhana biasanya cocok saat:
- layanan masih sedikit;
- calon klien datang dari relasi;
- konten jarang berubah;
- belum ada integrasi; dan
- tujuan website hanya memberi informasi dasar.
Dalam kondisi ini, jaga proyek tetap kecil. Jangan menambah fitur karena terlihat menarik.
Kapan perlu anggaran lebih
Biaya mulai naik saat website dipakai banyak orang atau terhubung dengan process lain.
Contohnya: tim pemasaran perlu membuat halaman sendiri, katalog berubah tiap minggu, ada data dari sistem lain, atau beberapa orang perlu meninjau konten sebelum terbit.
Beban kerjanya bukan lagi soal tampilan.
Hindari membayar dua kali
Pilihan paling murah bisa menjadi mahal kalau enam bulan kemudian seluruh struktur harus diganti.
Sebelum mulai, tanyakan apa yang mungkin berubah dalam satu tahun. Tidak perlu membangun semua rencana dari sekarang, tapi keputusan awal jangan menutup jalan yang sudah terlihat.
Minta scope yang jelas
Proposal yang sehat menyebutkan apa yang masuk, apa yang tidak, timeline, revision, dan tanggung jawab tiap pihak.
Kalau semuanya jelas, Anda bisa memilih versi sederhana dengan tenang. Murah atau mahal menjadi pertanyaan kedua. Pertanyaan pertamanya: apakah ruang lingkup ini memang cukup?