Ada calon klien yang meminta website. Anda punya, tetapi malah mengirim Instagram atau profil PDF.
Kalau ini sering terjadi, jangan buru-buru menyalahkan desain. Rasa enggan itu bisa datang dari beberapa tempat.
Isi website sudah terlalu lama
Layanan berubah, tim bertambah, dan proyek yang ditangani makin besar. Di website, semuanya masih seperti tiga tahun lalu.
Wajar kalau tautannya terasa tidak mewakili kondisi sekarang.
Periksa dulu fakta dasar: daftar layanan, profil tim, proyek, alamat, dan cara menghubungi. Konten lama sering lebih mengganggu daripada warna yang sudah ketinggalan tren.
Kalimatnya terdengar seperti semua perusahaan
Kalimat komitmen yang terlalu umum tidak memberi banyak informasi.
Kalimat semacam itu aman, tapi sulit dipercaya karena tidak menjelaskan pekerjaan sebenarnya. Ganti dengan hal yang lebih konkret: siapa yang dilayani, apa yang dikerjakan, dan bagaimana prosesnya.
Tidak perlu terdengar hebat. Perlu terdengar benar.
Proyek bagus justru tidak terlihat
Banyak website menampilkan logo klien tanpa konteks. Padahal satu cerita proyek yang jujur bisa jauh lebih meyakinkan.
Jelaskan masalahnya, bagian yang Anda kerjakan, dan batas pekerjaannya. Kalau tidak ada angka hasil, tidak perlu mengarang angka.
Tampilannya tidak lagi terasa seperti bisnis Anda
Desain memang membentuk kesan. Tipografi yang lemah, jarak yang sempit, dan tampilan ponsel yang berantakan bisa membuat bisnis terlihat kurang terurus.
Di sini pembaruan visual masuk akal. Namun desain baru tetap harus mengikuti isi yang sudah dibenahi.
Gunakan rasa ragu sebagai daftar pemeriksaan
Sebelum membangun ulang, tulis alasan Anda enggan mengirim tautan:
- informasi mana yang sudah salah;
- halaman mana yang terasa memalukan;
- bagian mana yang sulit dijelaskan; dan
- apa yang ingin dilihat calon klien.
Daftar itu lebih berguna daripada referensi desain yang dikumpulkan tanpa arah.
Targetnya sederhana. Saat seseorang meminta website, Anda bisa mengirim tautannya tanpa perlu memberi catatan tambahan.